Artikel dan Tulisan

Ojek Troli hingga Berburu “Blue Fire” di Kawah Ijen

Pinterest LinkedIn Tumblr

Di antara kami berlima, tak seorang pun pernah menginjakkan kakinya di Gunung Ijen, Bondowoso, Jawa Timur. Cerita teman yang pernah mendaki ke kawah Ijen dan informasi para traveller yang diunggah di dunia maya, menjadi kompas dalam berburu “blue fire”.

Selepas merayakan Malam Natal di Bali, esok harinya (25/12) sekitar jam 2 pagi, kami bersiap-siap berangkat ke Banyuwangi. “Ya, perjalanan ke Banyuwangi dari Tabanan, sekitar 4 jam” ungkap Wahyu sambil mengemudikan mobilnya.

Lokasi Pengamatan Blue Fire (Dokpri)

Tetiba di Selat Bali, langit sudah terbuka tanda pagi tiba. Sayang awan hitam menggantung sehingga keinginan untuk melihat “sunrise” dari lokasi penyeberangan Gilimanuk – Ketapang tidak tersaji di depan mata. Saat musim liburan itu, kendaraan yang menyeberang ke Jawa, tidak banyak. Masih ada ruang lega di kapal yang kami tumpangi.

Memasuki kota “Gandrung” Banyuwangi, perut kami mulai terasa lapar. Muncul niat kami untuk mencari sarapan kuliner khas Banyuwangi. Nasi Tempong atau “Sego Tempong” Mbok Nah yang terkenal pedas seperti pipi ditampar lantas kami buru pagi itu. Berbekal Google Map, kami menemukan lokasinya. Sayang kami datang terlalu pagi, sehingga lauk dan lalapan sayurannya belum tersedia.

Lembaga Adat (Dokpri)

Karena masih pagi, tak hanya kuliner yang kami cari. Kampung adat Suku Osing, penduduk asli Banyuwangi, kami sambangi untuk menyoba kopi osing yang terkenal rasanya.

Wahyu mengarahkan mobilnya ke Desa Kemiren. Lalu, berhenti di gapura yang terpapang jelas tulisan Desa Adat Osing Kemiren untuk berswafoto. Keunikan desa adat ini, baru “kelihatan” ketika kami berhenti di rumah-rumah yang masih mempertahankan corak dan arsitektur aslinya pada bangunan rumah dan meja kursinya.

Pintu Gerbang Desa Adat Osing Kemiren (Dokpri)

“Saya kira kampung adatnya itu satu lokasi, ternyata terpencar di mana-mana dan berada di antara bangunan rumah warga yang modern” kata saya setelah menyusuri desa Kemiren.

Pos Paltuding

Akhirnya kami memutuskan ke arah Ijen. Tepatnya, menuju Pos Paltuding, pos masuk ke kawah Ijen. Saat tiba di pakiran pos itu, jarum jam menunjuk pada angka 10 lebih. Meski masih siang tapi sudah terasa seperti sore karena mendung.

Peta Wisata Kawah Ijen di Paltidung (Dokpri)

Puncak Gunung Ijen memiliki ketinggian 2.443 m dpl. Namun, di pos Paltuding dinginnya udara sudah terasa menusuk tulang.

“Aku mau beli sarung tangan, soalnya tanganku mulai kedinginan” kata saya sambil mengajak Jay, guru Mandarin, yang penasaran dengan “blue fire”. Selain warung-warung, tersedia homestay, tenda-tenda, toilet dan pusat informasi Wisata Kawah Ijen. Saya dengar, menginap di homestay semalam biayanya sekitar 400 ribu rupiah.

Tiket Masuk Wisata Kawah Ijen (Dokpri)

Pedagang asongan yang berkeliling menjual sarung tangan, kupluk, kaos kaki dan aneka kebutuhan pendakian, menawarkan harga 10 ribu untuk sepasang sarung tangan. Kami beli dua pasang.
“Sebaiknya jangan pakai celana jean, karena bahan kainnya menyerap dingin. Lebih baik celana training karena tahan dari angin dan dingin” kata Wahyu mengingatkan.

Persiapan pendakian ke kawah ijen, karena pintu jalur pendakian dibuka pukul 1 pagi, kami siapkan di warung Ayu di dekat parkiran mobil. Untuk keselamatan kami, diputuskan untuk menggunakan pemandu wisata yang menyediakan masker, senter dan pengawalan.

Ojek Troli (Dokpri)

Pendakian Berburu “Blue Fire”

Malam itu, banyak wisatawan domestik dan manca negara yang akan mendaki ke kawah ijen. Mereka sudah berkerumun di muka loket masuk. Tiket masuk pendakian per orang dikenai Rp. 5.000,- Sedangkan untuk wisatawan asing tiket masuknya Rp. 150.000,- (Hari biasa atau weekday).
“Aku kayaknya nggak kuat naik. Pak tolong dong, carikan ojek troli ya” kata Ina, istrinya Wahyu. Lalu Wahyu segera cari ojek troli yang memang sudah mangkal di pintu gerbang.

Terlambat sedikit, Wahyu tidak dapat troli karena malam itu ternyata peminatnya banyak melebihi ketersediaan troli. Meski harus dibayar mahal, sekitar Rp 700 ribu, tetapi tanjakan sejauh 1,5 km dengan kemiringan 40 derajat, dapat dilibas dengan troli.

Penambang Belerang (Dokpri)

“Pantas kuat, satu gerobak troli ditarik tiga orang penambang” batin saya. Setiap gerobak troli dilengkapi dengan tuas rem untuk kenyamanan penumpang.
Di sepanjang jalur pendakian tersedia tempat untuk istirahat yang dilengkapi toilet. Sayangnya fasilitas umum ini jorok dan terkesan terbelengkai. Konon, ketersediaan air sangat minim.

Di pos bunder, saya sempat ke toliet yang ada penjaganya dan menyediakan air (secukupnya). Untuk keperluan itu, saya merogoh kocek sebesar 10 ribu untuk sekali bilas.

Selama pendakian saya sering berhenti untuk mengatur napas saya yang “ngos-ngosan”. Perjuangan itu akhirnya terbayar hingga sampai di puncak gunung Ijen. Esotiknya kawah Ijen yang berada di bawah punggung gunung, tampak ramai dikerumuni wisatawan.

Banyak Wisatawan Berhenti di sini (dokpri)

“Di mana saya bisa melihat blue fire?” tanya Jay dengan antusiasnya. “Kamu harus turun ke bawah. Mendekati lokasi penambangan belerang di dekat kawah Ijen di bawah sana” jawab saya ke Jay. Lantas Jay berjalan sesuai dengan petunjuk saya.

Jay sudah tak kelihatan lagi. Saya dengan yang lain berhenti di tebing. Di lokasi tempat saya berdiri, kawah Ijen berwarna biru tosca samar-samar terlihat seiring dengan pagi tiba.

Guratan tanah tebing mirip akar pohon, juga mulai tampak. Di sekeliling saya, ratusan wisatawan menikmati eksotisme kawah Ijen dengan berswafoto dan bercengkerama dengan temannya.

Tiba-tiba Jay nongol dan apakah melihat “blue fire”, ia menjawab sudah sampai di tempat para penambang belerang tetapi ditungu-tunggu hingga langit terbuka terang, “blue fire” tak kunjung muncul. “Saya tidak beruntung” kata Jay. Tak lama kemudian, pemandu kirim video blue fire ke hape Jay. Wajahnya sumringah setelah dapat video itu.

Jay bergaya (Dokpri)

Turun Gunung

Menikmati keindahan panorama kawasan kawah Ijen yang indah, dibarengi dengan perjuangan pendakian yang melelahkan, dan melawan dinginnya cuaca yang menusuk tulang, rasa penasaran akan kawah Ijen yang tersohor karena “blue fire” terbayar sudah.

Nilai sebuah perjuangan penambang (Dokpri)

“Akhirnya saya sudah pernah menginjakkan kaki di Gunung Ijen” kata saya seolah-olah baru saja menaklukkan popularitas Kawah Ijen sebagai objek wisata terpopuler di Indonesia.

Vandalisme (Dokpri)

Bagi yang ingin berwisata ke Kawah Ijen, bisa melakukan pendakian di siang hari sebelum jam 12. Jalur pendakian ditutup pada jam 12 siang dan dibuka kembali pada jam 1 subuh. Hanya saja, pancaran “blue fire” dilihat pada saat masih gelap.

 

Salam Koteka!!

Penulis: Tri Lokon
Suka fotografi, traveling, sastra, kuliner, dan menulis wisata di samping giat di yayasan pendidikan
https://www.instagram.com/trilosnito