Berita Pilihan

Benarkah letusan gunung Anak Krakatau sebabkan tsunami Selat Sunda?

Pinterest LinkedIn Tumblr

Letusan berkelanjutan Gunung Anak Krakatau sejak Sabtu (22/12) sore diduga memicu gelombang tsunami di Selat Sunda pada malam harinya. Namun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tidak sepenuhnya sependapat.

Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Sabtu (22/12) sore memuntahkan tiang debu setinggi 1.500 meter di atas puncak, atau sekitar 1.838 meter di atas permukaan air laut. Setelah itu, rangkaian erupsi terus terjadi.

Sesudah sebelumnya menyebut tidak ada tsunami, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kemudian menyebut bahwa ternyata tsunami memang terjadi dan pemicunya diduga adalah letusan gunung Anak Krakatau yang dibarengi naiknya gelombang air laut di perairan Selat Sunda.

Namun, Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG Wawan Irawan mengatakan “terlalu cepat untuk menyimpulkan tsunami itu akibat Krakatau”.

“Karena kalau dari sisi kekuatan letusan, juga masih rendah,” ujar Wawan kepada BBC News Indonesia, Minggu (23/12) siang.

“Untuk terjadi tsunami karena letusan, itu perlu letusan yang cukup besar,” imbuhnya.

Saat ini Gunung Anak Krakatau berstatus level II, atau waspada dan terus mengalami peningkatan aktivitas dalam beberapa bulan terakhi.

Masyarakat dilarang untuk mendekati kawah dalam radius dua kilometer. Gunung Anak Krakatau terbentuk 40 tahun sejak Gunung Krakatau meletus dahsyat pada 1883 lalu.

Dua gelombang terjadi

Seorang fotografer gunung berapi Norwegia, Oystein Lund Anderson sedang berada di Pantai Anyer ketika tiba-tiba gunung itu meletus.

“Dan tiba-tiba saya melihat gelombang ini datang dan saya harus berlari,” ujarnya kepada BBC World News.

“Ada dua gelombang. Gelombang pertama tidak terlalu kuat,” imbuhnya kemudian.

Oystein Lund Andersen – Image caption Gelombang air menyapu Pantai Anyer pada Sabtu (22/12) malam pasca tsunami yang melanda Selat Sunda.

“Dan saya membangunkan mereka … Lalu saya mendengar gelombang besar datang. Saya melihat keluar jendela ketika gelombang kedua menghantam. Gelombang tu jauh lebih besar,” ucapnya.Dia kemudian berlari langsung ke hotel, di mana istri dan putranya sedang tidur.

Lalu apa penyebabnya?

Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Pos Pengamatan Anak Gunung Krakatau menyatakan terdengar suara dentuman dan dirasakan di pos pengamatan. Bahkan, pintu pos ikut bergetar.

“Pada pukul 21.03 WIB terjadi letusan, selang beberapa lama ada info tsunami,” tulis PVMBG dalam keterangan tertulisnya, Minggu (23/12).

Namun begitu, badan ini belum dapat memastikan apakah aktivitas letusan berkaitan dengan peristiwa tsunami. Pasalnya, rangkaian tremor aktivitas Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Juni 2018 tidak menimbulkan gelombang terhadap air laut, bahkan hingga tsunami.

Adapun material lontaran saat letusan yang jatuh di sekitar tubuh gunung api masih bersifat lepas dan sudah turun saat letusan ketika itu. Selain itu, untuk menimbulkan tsunami sebesar itu, perlu ada runtuhan yang cukup besar yang masuk ke dalam kolom air laut.

Gallo Images/Orbital Horizon/Copernicus Sentin | Image caption Foto satelit yang memperlihatkan erupsi Gunung Anak Krakatau pada Agustus lalu.

Dan untuk merontokan bagian tubuh yang longsor ke bagian laut diperlukan energi yang cukup besar, ini tidak terdeksi oleh seismograf di pos pengamatan gunungapi.

“Itu (longsor) mungkin saja terjadi. Tapi kalau dari monitoring seismik tidak terlihat,” ujar Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG Wawan Irawan

Namun, ahil vulkanologi Jess Phoenix mengatakan kepada BBC bahwa ketika gunung berapi meletus, magma panas mendorong ke bawah tanah dan dapat menggusur atau menerobos batu yang lebih dingin.

Menurutnya, ini bisa memicu tanah longsor.

Namun, karena sebagian Anak Krakatu berada di bawah air, dia berkata “Bukan hanya menyebabkan tanah longsor, tanah longsor bawah laut mendorong air saat bergerak.”

Ini kemudian dapat menyebabkan tsunami.

Harri Daryanto | Image caption Letusan Gunung Anak Krakatau yang diambil pada Oktober lalu.

Potensi tsunami susulan?

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono memperkirakan potensi tsunami susulan kemungkinan masih terjadi.

“Selama gunungnya masih aktif, tetap diwaspadai,” ujar Rahmat dalam keterangan pers, Minggu (23/12).

Namun, Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG Wawan Irawan memperkirakan letusan Anak Krakatau tidak akan besar.

“Tapi kita juga lihat ke depan tentunya dari data seismik kita bagaimana perkembangannya akan kita monitoring terus. Tapi sepertinya kalau letusan besar belum akan terjadi,” jelas Wawan.

Sumber: BBC.com