Berita Pilihan

Rusia dan China Soroti Strategi Keamanan Baru AS

Pinterest LinkedIn Tumblr

MOSKOW – Rusia dan China menyoroti strategi keamanan nasional baru Amerika Serikat (AS) yang baru dirilis Presiden AS Donald Trump.

Rusia menyebut strategi baru itu menunjukkan karakter imperialis AS. Meski demikian, Moskow dan China menyambut keinginan Washington menjalin kerja sama di beberapa bidang.

Pemerintahan Trump merilis buku putih strategi keamanan nasional baru itu berdasarkan dengan slogan “America First” yang dicanangkan presiden AS. Dalam dokumen itu, AS menuduh Rusia intervensi dalam masalah dalam negeri di negara-negara lain.

Presiden Donald John Trump menyatakan kalau Rusia serta Cina menjadi saingan terbesar AS.
Presiden Donald John Trump menyatakan kalau Rusia serta Cina menjadi saingan terbesar AS.

“Bacaan cepat dari sebagian strategi itu menyebut negara kami dalam satu atau lain hal menunjukkan karakter imperialis,” papar juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, dikutip kantor berita Reuters, kemarin.

Menurut Peskov, dokumen itu menunjukkan keengganan membuang ide dunia satu kutub. “Terlebih lagi, berkeras tidak ingin, tidak menghormati dunia multikutub,” katanya.

Dokumen strategi Trump itu tidak menyebut tuduhan dari badan keamanan AS bahwa Moskow intervensi dalam pemilu presiden AS 2016. Meski demikian, dokumen itu mencerminkan pandangan yang dimiliki para diplomat AS bahwa Rusia secara aktif merusak kepentingan AS di dalam dan luar negeri.

“Kami tidak dapat sepakat dengan sikap yang melihat negara kami sebagai ancaman bagi AS. Pada saat yang sama, ada beberapa aspek positif, secara khusus, kesiapan bekerja sama di beberapa bidang yang terkait kepentingan AS,” ujar Peskov.

Trump berulang kali mengungkapkan keinginan memperbaiki hubungan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin meski Rusia mengganggu kebijakan AS di Suriah dan Ukraina serta tidak membantu Washington dalam menghadapi Korea Utara (Korut).

Adapun China menjelaskan, kerja sama antara Beijing dan Washington akan memberikan hasil menang-menang bagi kedua pihak tapi konfrontasi akan merugikan kedua pihak. Pernyataan itu muncul setelah AS menyebut China sebagai kompetitor yang menantang kekuatan Washington.

China berharap AS dapat mencari landasan bersama sambil menghormati perbedaan. “Berdasar saling menghormati, China ingin menjalin perdamaian dengan negara-negara lain termasuk AS. Tapi AS juga harus beradaptasi dan menerima pembangunan China,” papar pernyataan Kedutaan Besar China di AS dalam lamannya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China Hua Chunying menjelaskan, Beijing selalu berkontribusi pada pembangunan global dan melindungi hukum internasional. “Kerja sama hanya pilihan tepat bagi China dan AS,” ujarnya.

Dia menambahkan, China tidak terkejut jika dua negara memiliki perbedaan tapi keduanya harus mencari cara konstruktif untuk mengatasinya. Aktivitas ekonomi dan diplomasi China di penjuru dunia disambut luas dan tidak ada negara atau laporan yang akan mengaburkan fakta atau menyebarkan fitnah jahat.

Sumber: Sindonews.com – (Muh Shamil)